عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ
Dia (Nabi Muhammad) berwajah masam dan berpaling
(Dia telah bermuka masam) yakni Nabi Muhammad telah bermuka masam (dan berpaling) yaitu memalingkan mukanya karena,
Surah 80 · Makkiyah
Bermuka Masam
عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ
Dia (Nabi Muhammad) berwajah masam dan berpaling
(Dia telah bermuka masam) yakni Nabi Muhammad telah bermuka masam (dan berpaling) yaitu memalingkan mukanya karena,
اَنْ جَاۤءَهُ الْاَعْمٰىۗ
karena seorang tunanetra (Abdullah bin Ummi Maktum) telah datang kepadanya.
(telah datang seorang buta kepadanya) yaitu Abdullah bin Umi Maktum. Nabi saw. tidak melayaninya karena pada saat itu ia sedang sibuk menghadapi orang-orang yang diharapkan untuk dapat masuk Islam, mereka terdiri dari orang-orang terhormat kabilah Quraisy, dan ia sangat menginginkan mereka masuk Islam. Sedangkan orang yang buta itu atau Abdullah bin Umi Maktum tidak mengetahui kesibukan Nabi saw. pada waktu itu, karena ia buta. Maka Abdullah bin Umi Maktum langsung menghadap dan berseru, "Ajarkanlah kepadaku apa-apa yang telah Allah ajarkan kepadamu." Akan tetapi Nabi saw. pergi berpaling darinya menuju ke rumah, maka turunlah wahyu yang menegur sikapnya itu, yaitu sebagaimana yang disebutkan dalam surat ini. Nabi saw. setelah itu, apabila datang Abdullah bin Umi Maktum berkunjung kepadanya, beliau selalu mengatakan, "Selamat datang orang yang menyebabkan Rabbku menegurku karenanya," lalu beliau menghamparkan kain serbannya sebagai tempat duduk Abdullah bin Umi Maktum.
وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ
Tahukah engkau (Nabi Muhammad) boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa)
(Tahukah kamu) artinya, mengertikah kamu (barangkali ia ingin membersihkan dirinya) dari dosa-dosa setelah mendengar dari kamu; lafal Yazzakkaa bentuk asalnya adalah Yatazakkaa, kemudian huruf Ta diidgamkan kepada huruf Za sehingga jadilah Yazzakkaa.
اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ
atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran sehingga pengajaran itu bermanfaat baginya?
(Atau dia ingin mendapatkan pelajaran) lafal Yadzdzakkaru bentuk asalnya adalah Yatadzakkaru, kemudian huruf Ta diidgamkan kepada huruf Dzal sehingga jadilah Yadzdzakkaru, artinya mengambil pelajaran dan nasihat (lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya) atau nasihat yang telah didengarnya dari kamu bermanfaat bagi dirinya. Menurut suatu qiraat lafal Fatanfa'ahu dibaca Fatanfa'uhu, yaitu dibaca Nashab karena menjadi Jawab dari Tarajji atau lafal La'allahuu tadi.
اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ
Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (para pembesar Quraisy),
(Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup) karena memiliki harta.
فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ
engkau (Nabi Muhammad) memberi perhatian kepadanya.
(Maka kamu melayaninya) atau menerima dan mengajukan tawaranmu; menurut suatu qiraat lafal Tashaddaa dibaca Tashshaddaa yang bentuk asalnya adalah Tatashaddaa, kemudian huruf Ta kedua diidgamkan kepada huruf Shad, sehingga jadilah Tashshaddaa.
وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ
Padahal, tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman).
(Padahal tidak ada celaan atasmu kalau dia tidak membersihkan diri) yakni orang yang serba berkecukupan itu tidak beriman.
وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ
Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),
(Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera) lafal Yas'aa berkedudukan sebagai Haal atau kata keterangan keadaan bagi Fa'il atau subjek yang terkandung di dalam lafal Jaa-a.
وَهُوَ يَخْشٰىۙ
sedangkan dia takut (kepada Allah),
(Sedangkan ia takut) kepada Allah swt.; lafal Yakhsyaa menjadi Haal dari fa'il yang terdapat di dalam lafal Yas'aa, yang dimaksud adalah si orang buta itu atau Abdullah bin Umi Maktum.
فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۚ
malah engkau (Nabi Muhammad) abaikan.
(Maka kamu mengabaikannya) artinya, tiada memperhatikannya sama sekali; lafal Talahhaa asalnya Tatalahhaa, kemudian salah satu dari kedua huruf Ta dibuang, sehingga jadilah Talahhaa.
كَلَّآ اِنَّهَا تَذْكِرَةٌ ۚ
Sekali-kali jangan (begitu)! Sesungguhnya (ajaran Allah) itu merupakan peringatan.
(Sekali-kali jangan) berbuat demikian, yakni janganlah kamu berbuat hal yang serupa lagi. (Sesungguhnya hal ini) maksudnya, surat ini atau ayat-ayat ini (adalah suatu peringatan) suatu pelajaran bagi makhluk semuanya.
فَمَنْ شَاۤءَ ذَكَرَهٗ ۘ
Siapa yang menghendaki tentulah akan memperhatikannya
(Maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya) atau tentu ia menghafalnya kemudian menjadikannya sebagai nasihat bagi dirinya.
فِيْ صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍۙ
di dalam suhuf yang dimuliakan (di sisi Allah),
(Di dalam kitab-kitab) menjadi Khabar yang kedua, karena sesungguhnya ia dan yang sebelumnya berkedudukan sebagai jumlah Mu'taridhah atau kalimat sisipan (yang dimuliakan) di sisi Allah.
مَّرْفُوْعَةٍ مُّطَهَّرَةٍ ۢ ۙ
yang ditinggikan (kedudukannya) lagi disucikan
(Yang ditinggikan) di langit (lagi disucikan) dari sentuhan setan.
بِاَيْدِيْ سَفَرَةٍۙ
di tangan para utusan (malaikat)
(Di tangan para penulis) yakni malaikat-malaikat yang menukilnya dari Lohmahfuz.
كِرَامٍۢ بَرَرَةٍۗ
yang mulia lagi berbudi.
(Yang mulia lagi berbakti) artinya, semuanya taat kepada Allah swt.; mereka itu adalah malaikat-malaikat.
قُتِلَ الْاِنْسَانُ مَآ اَكْفَرَهٗۗ
Celakalah manusia! Alangkah kufur dia!
(Binasalah manusia) maksudnya, terlaknatlah orang kafir itu (alangkah sangat kekafirannya) Istifham atau kata tanya pada ayat ini mengandung makna celaan; makna yang dimaksud, apakah gerangan yang mendorongnya berlaku kafir?
مِنْ اَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهٗۗ
Dari apakah Dia menciptakannya?
(Dari apakah Allah menciptakannya?) Istifham atau kata tanya di sini mengandung makna Taqrir. Kemudian Allah menjelaskannya melalui firman berikutnya:
مِنْ نُّطْفَةٍۗ خَلَقَهٗ فَقَدَّرَهٗۗ
Dia menciptakannya dari setetes mani, lalu menentukan (takdir)-nya.
(Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya) menjadi 'alaqah, kemudian menjadi segumpal daging hingga akhir penciptaannya.
ثُمَّ السَّبِيْلَ يَسَّرَهٗۙ
Kemudian, jalannya Dia mudahkan.
(Kemudian untuk menempuh jalannya) yakni jalan ia keluar dari perut ibunya (Dia memudahkannya.)