وَالشَّمْسِ وَضُحٰىهَاۖ
Demi matahari dan sinarnya pada waktu duha (ketika matahari naik sepenggalah),
(Demi matahari dan cahayanya di pagi hari) yaitu sewaktu memancarkan sinarnya di pagi hari.
Surah 91 · Makkiyah
Matahari
وَالشَّمْسِ وَضُحٰىهَاۖ
Demi matahari dan sinarnya pada waktu duha (ketika matahari naik sepenggalah),
(Demi matahari dan cahayanya di pagi hari) yaitu sewaktu memancarkan sinarnya di pagi hari.
وَالْقَمَرِ اِذَا تَلٰىهَاۖ
demi bulan saat mengiringinya,
(Dan bulan apabila mengiringinya) apabila muncul mengiringi terbenamnya matahari.
وَالنَّهَارِ اِذَا جَلّٰىهَاۖ
demi siang saat menampakkannya,
(Dan siang apabila menampilkannya) yaitu menampakkan matahari yang semakin meninggi.
وَالَّيْلِ اِذَا يَغْشٰىهَاۖ
demi malam saat menutupinya (gelap gulita),
(Dan malam apabila menutupinya) artinya menyelimuti siang dengan kegelapannya. Lafal Idzaa yang ada pada tiga tempat di atas hanya menunjukkan makna Zharaf, sedangkan yang menjadi Amilnya adalah Fi'il dari Qasam.
وَالسَّمَاۤءِ وَمَا بَنٰىهَاۖ
demi langit serta pembuatannya,
(Dan langit serta pembinaannya.)
وَالْاَرْضِ وَمَا طَحٰىهَاۖ
demi bumi serta penghamparannya,
(Dan bumi serta penghamparannya) yang menghampar.
وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰىهَاۖ
dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya,
(Dan jiwa) sekalipun bentuk lafalnya Mufrad tetapi makna yang dimaksud adalah Jamak (serta penyempurnaannya) maksudnya kesempurnaan ciptaannya; lafal Maa pada tiga tempat di atas adalah Maa Mashdariyah, atau bermakna Man.
فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ
lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya,
(Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya) maksudnya Allah menjelaskan kepadanya jalan kebaikan dan jalan keburukan. Lafal At-Taqwaa letaknya diakhirkan karena demi memelihara keserasian bunyi akhir ayat, sedangkan sebagai Jawab dari Qasam di atas ialah:
قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ
sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu)
(Sesungguhnya beruntunglah) pada lafal Qad Aflaha ini sengaja tidak disebutkan huruf Lam Taukidnya karena mengingat panjangnya pembicaraan (orang yang menyucikannya) yakni menyucikan jiwanya dari dosa-dosa.
وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ
dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.
(Dan sesungguhnya merugilah) atau rugilah (orang yang mengotorinya) yang menodainya dengan perbuatan maksiat. Asalnya lafal Dassaahaa ialah Dassasahaa, kemudian huruf Sin yang kedua diganti menjadi Alif demi untuk meringankan pengucapannya, akhirnya jadilah Dassaahaa.
كَذَّبَتْ ثَمُوْدُ بِطَغْوٰىهَآ ۖ
(Kaum) Samud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas
(Kaum Tsamud telah mendustakan) rasulnya, yaitu Nabi Saleh (karena mereka melampaui batas) disebabkan tindakan mereka yang melampaui batas.
اِذِ انْۢبَعَثَ اَشْقٰىهَاۖ
ketika orang yang paling celaka di antara mereka bangkit (untuk menyembelih unta betina Allah).
(Ketika bangkit) artinya bersegera (orang yang paling celaka di antara mereka) orang tersebut dikenal dengan nama julukan si pendekar, lalu ia bersegera menyembelih unta Nabi Saleh atas izin mereka.
فَقَالَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللّٰهِ نَاقَةَ اللّٰهِ وَسُقْيٰهَاۗ
Rasul Allah (Saleh) lalu berkata kepada mereka, “(Biarkanlah) unta betina Allah ini beserta minumannya.”
(Lalu Rasul Allah berkata kepada mereka) yakni Nabi Saleh ("Unta betina Allah) maksudnya biarkanlah unta betina Allah ini (dan minumannya") dan hari bagian minumnya; sesungguhnya bagian minum itu digilirkan antara mereka dan unta; untuk unta sehari dan untuk mereka sehari.
فَكَذَّبُوْهُ فَعَقَرُوْهَاۖ فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنْۢبِهِمْ فَسَوّٰىهَاۖ
Namun, mereka kemudian mendustakannya (Saleh) dan menyembelih (unta betina) itu. Maka, Tuhan membinasakan mereka karena dosa-dosanya, lalu meratakan mereka (dengan tanah).
(Lalu mereka mendustakannya) mendustakan ucapan Nabi Saleh yang mengatakan, bahwa unta itu adalah milik Allah, dan bila mereka melanggarnya niscaya hal itu akan berakibat turunnya azab atas mereka (dan menyembelih unta itu) atau mereka membunuhnya itu, dengan maksud supaya bagian minum itu diperoleh seluruhnya oleh mereka (maka menimpakanlah) atau menurunkanlah (kepada mereka Rabb mereka) azab (disebabkan dosa mereka, lalu Allah meratakan azab) atas mereka, sehingga tidak ada seorang pun dari mereka yang dapat lolos atau menyelamatkan diri dari azab-Nya.
وَلَا يَخَافُ عُقْبٰهَا ࣖ
Dia tidak takut terhadap akibatnya.
(Dan tiadalah) dapat dibaca Walaa dan Falaa (Allah takut terhadap akibat tindakan-Nya itu) maksudnya akibat azab yang akan terjadi.